Heloo
jumpa lagi dengan saya suka mencatat hal yang absurd, di catatan tugas yang
peratama saya sudah mencatat Apa perbedaan virtual dengan dunia nyata? Catatan yang
kedua ini saya akan menjelaskan tentang Pesimisme vs Optimisme. Yap di dunia
ini siapa sih yang tidak mempunyai lawan? Malam aja punya pagi, jelek-ganteng,
tinggi-pendek dan masih banyak yang lainnya. Begitu pun dengan optimism dan
peisimisme itu saling berlawanan seperti magnet bertolak belakang. Mulai saja
ya materinya daripada saya kebanyakan ngetik ngelantur, nanti tidak nyambung.
Internet, iya internet sekarang sudah menyebar sampai
ke penjuru dunia. Mulai dari kalangan bawah sampai atas, mulai dari kalangan
burjo sampai rumah makan. Semuanya menggunakan internet agar mereka tidak
ketinggalan zaman.
Ada dua perspektif mengenai internet ada Optimisme dan
Pesimisme.
Pandangan keduanya memiliki perbedaan yang sangat
jauh, karena pespektif ini ada dampak positif dan negative dari setiap
perspektif. Negara kita sendiri harusnya mempunyai pandangan yang luas agar,
masyarakat tidak tertinggal dengan teknologi dan menghasilkan masyarakat yang
maju dan tidak tertinggal dengan Negara lain. Kekurangan Indonesia memang dari
segi teknologi, dibandingkan dengan Negara lain teknologi emang kita kurang
tetapi dari sumber daya manusia negara kita unggul, nah dari keunggulan ini
kita tidak bisa memanfaatkan teknologi yang ada. Bayangkan jika negara kita
memanfaatkan teknologi, sumber daya manusia kita banyak, dan mengelola sumber
daya dengan baik & benar, negara kita sekarang sudah seperti Amerika
serikat bahkan diatas mereka. Melalui internet memang banyak keunggulan,
keunggulannya seperti kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat, mempunyai
relasi dengan media sosial yang ada. Tapi di sisi lain internet juga mempunyai
kekurangan yang berdampak fatal bagi pertumbuhan negara kita seperti banyak
anak-anak atau remaja mengakses videoe porno sehingga menyebabkan pola berfikir
mereka jadi kotor, bisa disebut juga viktor (fikiran kotor) hahahahaha. Banyak fakta
ataupun data yang menunjukan Indonesia masih diantara perspektif optimis dan
pesimis. Seperti dilansir viva.co.id tentang masyarakat pengguna internet.
Data
Internet Indonesia, Pengguna Anak-anak Mengejutkan
Anak usia 10-15 tahun sudah banyak yang mengakses internet.
Senin,
24 Oktober 2016 | 18:05 WIB
VIVA.co.id – Ada yang
menarik dari hasil survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Internet
Indonesia (APJII) terkait pengguna internet pada 2016. Anak-anak Indonesia
mulai bersentuhan dengan internet.
Berdasarkan statistik
pengguna internet Indonesia, APJII mengklasifikasikan sembilan kategori usia
dari anak-anak hingga orang tua. Hasilnya, generasi produktif dengan umur
25-29 tahun menjadi yang teratas dengan jumlah 24 juta.
Angka 24 juta tersebut
disaingi oleh pengguna internet pada kisaran 35-39 tahun. Kemudian disusul
di belakangnya 30-34 tahun yang mencapai 23,3 juta.
Lalu, di bawahnya
secara berurutan diikuti oleh 20-24 tahun (22,3 juta), 40-44 tahun (16,9 juta),
15-19 tahun (12,5 juta), 45-49 tahun (7,2 juta), 50 tahun ke atas (1,5
juta), dan 10-14 tahun dengan 768 ribu.
Statistik pengguna
internet Indonesia dilihat dari usia itu merupakan dari jumlah total
pengguna internet Indonesia 132,7 juta. Angka pengguna internet tersebut
mengalami pertumbuhan 51,8 persen dari survei APJII 2014 dengan mencatat 88
juta pengguna.
"Ini cukup
mengejutkan, anak dengan umur sekitar 10-15 tahun sudah mengakses internet. Ini
jadi pekerjaan rumah bagi kita untuk mendorong internet sehat dan lebih bagus
lagi. Karena, selama ini filter konten masih kurang memuaskan," ucap Ketua
APJII, Jamalul Izza di Jakarta, Senin 24 Oktober 2016.
Dari hasil survei
APJII tentang pengguna internet 2016, pemblokiran situs tertentu masih jauh
dari memuaskan, sebab 69,2 persen responden atau 91,8 juta menyatakan
belum cukup puas, sedangkan yang menyatakan sudah memuaskan hanya 30,2 persen
atau 40 juta pengguna.
"Mereka
(anak-anak usia 10-14 tahun) belum bermain di media sosial, mereka malah sering
menonton video, salah satunya di YouTube," ucap Jamal.
Konten media sosial
yang sering dikunjungi yaitu Facebook 54 persen (71,6 juta), Instagram 15
persen (19,9 juta), dan YouTube 11 persen (14,5 juta).
Media sosial
merupakan jenis konten internet yang paling diakses dari jenis konten
internet lainnya dengan mencapai 97,4 persen atau 129,2 juta. Lalu
di belakangnya hiburan 96,8 persen (128,4 juta), berita 96,4 persen (127,9
juta), pendidikan 93,8 persen (124,4 juta), komersial 93,1 persen (123,5 juta),
dan layanan publik 91,6 persen (121,5 persen).
Data diatas menunjukan bahwa yang menggunakan internet
bukan hanya kalangan remaja tetapi anak-anak juga mengakses internet dengan
kegunaan yang menyimpang. Seharusnya pihak orang tua juga mengawasi apa yang
anaknya lakukan, seperti tidak boleh membelikan handphone pada SD. Disini peran
orang tua sungguh vital untuk melindungi anaknya dari bahaya Internet, jika
orang tua mampu mengawasi anaknya dengan baik maka tidak ada perilaku
menyimpang dari anaknya. Karena masyarakat Indonesia masih membutuhkan
penyaringan untuk sistem internet bagi anak-anak maupun dibawah umur, pasalnya Indonesia
situs bokep ramai dikunjungi oleh remaja yang umur masih belum cukup untuk
mengakses website tersebut. Semoga mengakses internet di Indonesia tidak hanya
untuk hal yang negative tetapi juga untuk hal yang positive. Seperti catatan
saya datas karena tiap perspective mempunyai kekurangan dan kelebihannua
masing-masing.

Mungkin sekian catatan absurd, semoga kalian suka
dengan postingan saya yang tidak berisi ini, semoga Indonesia menjadi negara
yang kaya dan bisa memanfaatkan teknologi untuk bersaing dengan negara lain. Tetap
sehat, tetap semangat, jaga kesehatan biar bisa posting di blog. Okeyy see you.
REFERENSI